Tapukul Dahi Sorang
Posted by a2karim09 pada Juli 19, 2010
Jaman dulu, bila kita menginginkan sesuatu dari hutan biasanya membawa sesuatu berupa barang misalnya garam, kemudian diletakkan pada tempat tertentu. Esok harinya akan kita peroleh sebagai pengganti mungkin berupa buah2an, menjangan atau apa saja yang menurut “orang dalam” layak dijadikan pengganti.
Sesuai kemajuan jaman, cara-cara seperti itu secara perlahan sudah ditinggalkan disamping cara tersebut tidak praktis. Walau demikian masih ada cara pertukaran yang tersisa dan masih digunakan, misalnya mengambil buah durian dari dalam hutan yang kita tidak tahu siapa pemiliknya. Pengalaman kami di hutan pegunungan Meratus yang saat itu mengikuti survey Boundary Sistem dan kebetulan waktu itu musim durian. Di sekitar pohon terdapat banyak buah durian (durian hijau dan durian merah) yang jatuh berserakan, disamping itu ada pula yang bertumpuk. Saya makan buah durian yang berserakan. Sebelum kami pulang, kami letakkan uang seadanya sebagai pengganti buah durian yang kami makan. Sebenarnya yang dilakukan pengganti adalah buah yang sudah ditumpuk. Tapi menurut kami buah (durian yang berserakan) yang dimakan dari pohon yang ada pemiliknya. Jadi tidak salahnya diberi pengganti sebagai tanda terimakasih. Jadi uang merupakan alat pengganti atau alat tukar untuk memenuhi sesuatu atau terpenuhinya sesuatu keinginan.
Kini, uang bukan saja sebagai alat tukar, tapi uang dapat pula dianggap berupa barang yang dapat dijual-belikan. Uang dapat juga dianggap barang pengganti cenderamata atau langsung dijadikan berupa barang.
Terkait dengan uang yang dijadikan sejata politik merupakan himbauan MUI Banjarbaru jelang Pilwali, apakah tidak terlalu berlebihan. Semua orang tahu ayatnya ada. Apalagi dengan judul artikel “Politik Uang = Masuk Neraka” (mr-110, RB/Radar Banua, Rabu 14 Juli 2010, Hal.10 Kol.2-3), “apakah kada mamukul dahi sorang”; apakah tidak memukul dahi sendiri.
Terlepas dari jelang Pilwali Kota Banjabaru atau pemilihan apa saja, uang akan ambil peranan. Apakah ia bersifat positif atau negatif. Politik uang berarti kita bermain-main dengan uang. Bagaimana dengan sejalan “cerita buah durian”, uang tersebut dijadikan barang hadiah atau cenderamata atau bahasa krénnya doorprize atau apapun namanya/sebutannya sebagai tanda terimakasih. Apakah ini tidak termasuk politik uang?. Kalau juga termasuk “politik uang” yang sudah dimodifikasi, maka MUI Banjarbaru tentu dapat menghitung jumlah individu masyarakat Banjarbaru yang termasuk katagori “Calon Penghuni Neraka”. Lalu bagaimana dengan “korupsi”. Korupsi tidak berarti harus uang. Tapi dapat pula misalnya berkaitan dengan waktu; “korupsi waktu kerja”.
Siapapun yang memberi saya apakah berupa uang, cenderamata (sarung, baju) atau apa saja, siap menerimanya dengan senang hati. Saya ‘kan nggak janji. Soal njoblos, pilih yang bakal membangun Kota Banjarbaru sebagai Kota Idaman.
A2karim
